Hijab Dan Iman

‘Kenapa tiba-tiba pakai jilbab gede begini?’
‘Percuma pakai kerudung besar tapi sholatnya masih bolong!’
‘Jilbab dua lapis tapi ngaji kok belum benar?’
‘Sok alim banget pake jilbab dua lapis begitu.’
‘Udah merasa syar’i pake jilbab dua lapis begitu?’
‘Mending jilbabin hati dulu daripada pake jilbab panjang tapi kelakuan masih gak benar.’
‘Malu sama jilbab kalau kelakuan lu masih gak bener!’
‘Percuma pakai kerudung besar tapi sholatnya masih bolong!’
‘Jilbab dua lapis tapi ngaji kok belum benar?’
‘Sok alim banget pake jilbab dua lapis begitu.’
‘Udah merasa syar’i pake jilbab dua lapis begitu?’
‘Mending jilbabin hati dulu daripada pake jilbab panjang tapi kelakuan masih gak benar.’
‘Malu sama jilbab kalau kelakuan lu masih gak bener!’
Mungkin kata-kata itu yang sering saya
dengar semenjak memutuskan untuk memakai jilbab yang cukup panjang untuk
menggantikan jilbab biasa –asal-asalan- yang sering saya pakai
sebelumnya.
Awalnya karena suka lihat kakak-kakak
leting yang pakai jilbab besar karena kelihatan rapi, anggun dan lebih
bermartabat jadi kesannya seperti orang pintar dan berwibawa, juga
karena adanya batuan dari teman saya –Irla- yang bilang “Ayo meulu,
pakai saja.” Setelah saya mengungkapkan ingin pakai jilbab yang begitu.
Beberapa kali, saya sempat menolak dengan alasan ‘Mau jilbabin hati
dulu, perbaiki tingkah laku’ tapi pada akhirnya saya berfikir ‘kenapa
gak mulai berubah dari cara berpakaian saja?’ Akhirnya saya diajarkan
Irla cara memakai jilbab dua lapis dengan benar yang masih terus saya
gunakan hingga sekarang dan insyaallah hingga nenek-nenek nanti.
Respon dari teman-teman yang saya dapat
dari penampilan baru itu banyak yang positif tapi tak berarti tak ada
respon negatif yang saya dapat. Contohnya kalimat-kalimat yang saya
tilis di awal postingan ini. Gerah juga sih dapat perkataan yang
begituan, tapi ya mau gimana lagi sesuatu yang baik itu pasti mempunyai
pihak oposisi yang mencoba menghalanginya terwujud.
Lah, terus maksud postingan lu apa, mau curhat gitu? Bukan, tapi Cuma mau meluruskan beberapa hal.
Terus apa, mau ceramah? Bukan, karena
saya masih belum merasa pantas untuk menggurui dan menceramahi orang,
walaupun kita sebagai umat muslim dianjurkan untuk berdakwah tapi jujur
saya merasa belum mampu.
Baiklah, yang akan saya tulis dan
kalian baca dibawah ini adalah jawaban atas pertanyaan yang ada di atas,
maaf jika terdapat kesalahan dalam jawaban saya. Kalau bisa baca sampai
habis biar jangan salah tangkap maksud saya
‘Kenapa tiba-tiba pakai jilbab gede begini?’Jawabannya udah di jelaskan dalam ‘pendahuluan’ di atas, haha. Oh ia, tambahan bagi yang belum tau. Sebenarnya jilbab dalam ajaran islam adalah baju yang menutupi hingga mata kaki (seperti gamis), berlengan panjang, tidak transparan, tidak ketat (longgar) dan tanpa potongan seperti yang dijelaskan dalam Al-qur’an surah Al-Ahzab ayat 59 sedangkan Jilbab (atau mungkin hijab) yang kita kenal selama ini sebenarnya adalah Khimar (atau juga bisa disebut kerudung) yang kita julurkan hingga menutupi dada yang dijelaskan dalam Al-Qur’an surah An-Nur ayat 31, untuk selanjutnya kita sebut khimar saja. Sedangkan hijab sendiri bermakna menutupi, khimar atau kerudung adalah bagian dari hijab tapi kerung/khimar bukanlah hijab. Bagaimana, sudah cukup paham kan, saudara-saudara?
‘Percuma pakai kerudung besar tapi sholatnya masih bolong!’
Nah, yang ini adalah pertanyaan yang
paling ingin saya jawab. Readers (dan penanya) yang terhormat, yang
pertama ingin saya sampaikan adalah kerudung tidak mencerminkan keimanan
seseorang. Memang betul, banyak orang yang menggunakan kerudung besar
dan baju jilbab merupakan orang yang memiliki iman kuat, tapi tidak
semua seperti itu. Ingatlah orang mempunyai alasan tersendiri untuk
menggunakan jilbab dan khimar yang sesuai dengan ajaran islam, ada yang
untuk menutupi dan menjalankan perintah Allah dan ada juga yang
digunakan untuk ‘menutupi’. Jangan cepat menilai orang dari
penampilannya saja, mengerti?! Tidak semua orang yang memakai pakaian
syar’i adalah wanita muslimah baik dan beriman sedangkan wanita muslimah
yang baik dan beriman kuat PASTI mengenakan pakaian syar’i. Silahkan
percaya atau tidak atau bahkan ingin marah sekalipun saya hanya
mengatakan yang sebenarnya sejauh apa yang sudah saya dapatkan. Jadi,
Hijab tidak sama dengan Iman, tapi hijab merupakan bagian keimanan
seorang muslimah. Jadi ayo saudari seimanku, tunggu apa lagi?
Tapi, dengan berkata begini bukan
berarti saya sudah baik. Saya akui sholat saya masih bolong-bolong,
inilah yang harus saya ubah selanjutnya. Semoga Allah melancarkan jalan
untuk menghilangkan kekufuran yang datang dari bisikan syaitan
terkutuk.
Tak ada yang salah dengan memakai jilbab dan kerudung, itu merupakan perintah Allah. Yang salah itu hanya manusianya karena kesalahan adalah kodrat dari manusia.
Tak ada yang salah dengan memakai jilbab dan kerudung, itu merupakan perintah Allah. Yang salah itu hanya manusianya karena kesalahan adalah kodrat dari manusia.
‘kerudung besar tapi ngaji kok belum benar?’
Apakah orang yang belum lancar mengaji
tidak boleh mengenakan kerudung besar, wahai saudara-saudara? Tanyakan
itu pada diri sendiri, dan saya yakin jawabannya adalah tidak. Al-Qur’an
itu laksana manual book yang diberikan Allah kepada kita sebagai
penuntun kita dalam menjalani kehidupan, seperti misalnya kita membeli
robot pasti pembuat robot tersebut menyelipkan buku tentang robot
tersebut dan cara perawatannya, bukan? Sebagai makhluk Allah, kita
diperintahkan untuk membaca dan mengamalkan Al-Qur’an oleh pencipta
kita. Disamping itu, dalam Al-Qur’an juga dikatakan para muslimah juga
diwajibkan untuk mengenakan pakaian yang dapat membedakannya dari
perempuan non-islam, yang melindungi dirinya dari gangguan luar juga
sebagai bentuk keimanannya terhadap Allah dan Rasullah. Nah, kalau
dibilang yang ngajinya belum benar jangan pakai kerudung besar dulu
berarti belum menjalankan kewajibannya terhadap Al-Qur’an sepenuhnya
dong karena tidak turut mengamalkannya. Terus dia dapat apa kalau udah
tahu Allah menyuruhnya tutup aurat tapi gak dilaksanain? Dosa dong ya~
Kalau masalah ngaji belum benar,
seharusnya masih bisa –dan harus- belajar lagi, kan? Allah juga
mengatakan tuntutlah ilmu hingga keliang lahat, berarti kita masih bisa
belajar sampai otak kita berhenti bekerja dan udara gak bisa masuk lagi
dalam paru-paru yang juga berhenti bekerja asalkan jangan ditunda-tunda
saja
‘Sok alim banget pake jilbab dua lapis begitu.’
Teman-teman, kalau saya tak salah ingat
dosen agama saya bilang alim itu berarti berilmu. Apakah saya orang
yang berilmu? Tentu saya tak bisa menjawabnya karena ada langit di atas
langit, boleh jadi menurut si A saya berilmu sedangkan si B bilang saya
belum bisa dikategorikan sebagai orang yang berilmu. Definisi ‘Sok’
sendiri adalah berlagak, merasa mampu tapi sebenarnya tidak. Nah, ini
yang bisa menilai adalah orang. Tapi, apa hubungannya ya memakai
kerudung dua lapis dengan berilmu? Entahlah. Mungkin jawabannya bisa di
temukan di pertanyaan pertama.
‘Udah merasa syar’i pake kerudung dua lapis begitu?’Nah, ini harus diluruskan, hijab syar’i itu artinya sudah mengenakan jilbab dan khimar yang sesuai dengan yang sudah saya jelaskan diatas. Dan sejujurnya saya mengakui bahwa pakaian yang saya gunakan belum syar’i. Terkadang saya memakai blouse dengan rok, pakaian yang memiliki potongan, bahkan mungkin secara tidak sadar memperlihatkan kulit di beberapa bagian yang tidak saya ketahui. Saya belum memakai kaus kaki secara rutin dan kulit tangan bagian atas masih terlihat. Nah, jadi bisa disimpulkan saya belum memakai pakaian syar’i. Keinginan itu ada, tapi perubahan yang berlangsung cepat pasti akan cepat berubah kembali. Karenanya, menurut saya lebih baik berubah perlahan tapi pasti daripada langsung. Semoga Allah mempermudah jalannya.
Mungkin timbul pertanyaan, kalau begitu kan sama saja kalau kamu memakai kerudung biasa yang tipis dan pendek atau pasmina yang digulung-gulung, kan sama-sama tidak syar’i? Nah, inilah. Sebenarnya saya bingung mau jawab apa, tapi kurang lebih isi pemikiran saya seperti ini, maafkan jika saya salah dan mari kita perbaiki bersama .
Pertama, kenapa tidak pakai jilbab biasa yang tipis dan pendek? Karena saya sudah tau itu salah dan kalau saya melakukannya dosa saya menjadi 2 kali lipat. Dosa saya cukup banyak, jadi tak perlu di tambah-tambah lagi hehe. Kedua, tentang kerudung yang digulung-gulung sedemikian rupa saya menolaknya karena dua alasan yang pertama karena Allah melarang kita memakai kerudung yang menyerupai punuk unta dan juga banyak yang memakai jilbab sekarang digunakan seperti membungkus leher mereka, kita kan disuruh untuk menutup bukan membungkus. Lagipula, kalau dilihat baik-baik kerudung yang membungkus leher itu menyerupai biarawati kristen, dan ingatlah perkataan Allah barangsiapa yang mengikuti suatu kaum maka ia termasuk ke dalam kaum tersebut. Tentu kita tak mau, kan? Selain itu juga dikatakan dalam Al-Qur’an bahwa ” ..dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah dahulu…” (Al Ahzab : 33).
‘Mending jilbabin hati dulu daripada pake jilbab panjang tapi kelakuan masih gak benar.’
Jangan menunda-nunda, mulailah dari yang kecil! Jawaban itu saja cukup
‘Malu sama kerudung kalau kelakuan lu masih gak bener!’
Kalau ini tak perlu di bantah, cukup di jalankan saja . Maksudnya perkataan ini ada betulnya, sudah berjilbab kenapa tidak memperbaiki Akhlak? Gak mau dong wanita muslimah di cap jelek, ya kan? Semoga Allah membimbing kita semua. Saya akui lagi, perilaku saya harus banyak diubah.
Nah, setelah semuanya di jawab , mungkin ada yang bilang begini ‘Jadi lu kata kami salah berpakaian, gitu?’ jawabannya entahlah, saya tidak bisa mengatakan bahwa cara berpakaian teman-teman sudah baik atau belum. Kita sama-sama sudah besar, dapat membedakan yang mana yang baik dan buruk untuk kita, jika kehilangan arah maka kembalilah kepada Al-Qur’an dan Al-Hadist. Pesan saya hanya satu, jangan menilai orang dari luarnya saja, oke?
Akhir kata, saya bukan orang yang paham agama betul. Saya bukan orang yang bisa anda katakan salehah dan alim, belum. Ilmu saya dalam agama masih sangat sedikit dibandingkan dengan ilmu teman-teman semua. Saya bukan siapa-siapa, hanya mencoba mengeluarkan apa yang saya ketahui yang barangkali bisa menjadi manfaat. Sebaik-baiknya orang adalah yang bisa memberikan manfaat bagi orang lainnya. Maaf jika terdapat kesalahan dalam postingan ini, jika kalian menemukan sesuatu yang janggal dan bertentangan dengan fakta agama yang sesungguhnya, beritahu saya agar saya dapat memperbaikinya.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar